Skip navigation

sumber : Jawa Pos

BANYUWANGI – Delapan warga Kelurahan Temenggungan Banyuwangi mulai diserang penyakit Cikungunya. Mereka demam setelah terinfeksi gigitan nyamuk Aedes Aegypti.

Dari delapan warga RT 3-RW 3 Temenggungan yang terinfeksi, tiga di antaranya masih satu keluarga. Mereka adalah pasangan suami-istri Busairi, 62, Endang, 59, dan cucunya yang bernama Apriani.

Endang mengatakan, awalnya dirinya merasakan panas dan demam. Setelah itu, dia merasakan nyeri sendi pada lutut, pergelangan kaki, dan seluruh persendian. Tak lama kemudian, sekujur tubuhnya terasa pegal dan ngilu. ”Sekarang, demamnya sudah agak reda. Rasa ngilu maupun nyeri pada persendian dan otot juga berkurang. Tapi kalau mau jalan, kadang kaki seolah tidak bisa digerakkan,” katanya.

Setelah kondisi Endang membaik, giliran suami dan cucunya yang jatuh sakit. Tetapi, semuanya tidak sampai dirujuk ke rumah sakit. ”Saya langsung berobat ke bidan dan diberi obat. Sekarang, sudah agak lumayan,” katanya.

Cikungunya juga menyerang beberapa tetangga Busairi di Kelurahan Temenggungan. Mereka adalah Qomariah, Sri Wulandari, Samsul, Mak Tik, dan Sunarti. Empat warga lainnya diduga terserang demam berdarah (DB). Salah satunya, Anindita Aurel Iftitah, 4, warga Lingkungan Sritanjung yang saat ini sedang menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Blambangan.

Kepala Kelurahan Temenggungan, Sri Widiyanto mengatakan, masing-masing RT sudah melaporkan kejadian Cikungunya dan DB. ”Warga minta secepatnya dilakukan fogging. Namun, prosesnya harus dilakukan survei terlebih dahulu,” katanya.

Sri menambahkan, pihaknya sudah mengirimkan surat permohonan fogging kepada Dinas Kesehatan Banyuwangi. Diperkirakan, surat pengajuan tersebut baru sampai Senin mendatang. ”Petugas puskesmas sudah melakukan pemantauan di lingkungan sini. Memang di sini ada Kalitong, dan ada beberapa rumah warga yang memiliki kolam,” katanya.

Sebagai lurah, Sri mengaku sudah mengingatkan warganya untuk selalu membersihkan bak mandi dan kaleng atau botol bekas. Selain itu, nyamuk loreng juga senang hidup di benda yang menggantung, seperti baju di belakang pintu kamar. ”Nyamuk ini juga menyenangi tempat yang gelap dan pengap,” katanya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: