Skip navigation

sumber : JawaPos
Hasil Unas Mengalami Peningkatan

BANYUWANGI-Nilai kelulusan ujian nasional (unas) Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Banyuwangi meningkat dibanding tahun sebelumnya. Dari jumlah peserta unas 14.736 siswa, yang dinyatakan lulus 14.134 siswa. Oleh karena itu, jumlah siswa yang tidak lulus 602 anak

Sesuai data Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dispendikpora) Banyuwangi, persentase kelulusan tahun 2008 mencapai 94,71 persen. Sedangkan tahun 2009 mencapai 95,01 persen.

Peringkat nilai tertinggi diraih dua siswa SMPN 1 Banyuwangi. Mereka adalah Bagus Rahmad Irwansyah dan Sovila Dealova El Yunantha. Total nilai keduanya sama, yakni 39,40.

Pantauan koran ini kemarin pagi (20/6) menyebutkan, tidak ada perayaan kelulusan di SMPN 1 Banyuwangi. Suasananya tetap tenang tanpa aksi corat-coret seragam. Tidak ada euforia seperti kelulusan SMA beberapa hari sebelumnya. Para siswa hanya merayakan kelulusan di halaman sekolah. Tak ketinggalan, dua siswa yang meraih nilai tertinggi.

Kepala SMPN 1 Banyuwangi, Enny Purnamaningrum, mengaku tak menyangka dua siswanya meraih nilai tertinggi di Kabupaten Banyuwangi. Bahkan, peringkat ketiga kabupaten juga disabet siswanya, Aji Bagus, dengan nilai 39,35. ”Semua keberhasilan ini merupakan kerja keras anak-anak selama ini,” katanya kepada RaBa di ruang kerjanya kemarin pagi.

Suasana berbeda terlihat di SMPN 5 Banyuwangi. Tidak tampak ada perayaan kelulusan tahun ini. Pasalnya, dari 246 siswa, yang dinyatakan lulus hanya 241 siswa dan 5 siswa tidak lulus.

Kepala SMPN 5 Banyuwangi, Suprapto mengakui, masing-masing sekolah memiliki sumberdaya manusia (SDM) yang berbeda. Input yang masuk di sekolah itu juga berbeda dengan siswa yang masuk ke SMPN 1 Banyuwangi. “Sehingga tingkat kelulusannya juga berbeda,” terangnya di ruang kerjanya kemarin pagi.

Bagaimana nasib lima siswa yang tidak lulus? Kata Suprapto, mereka akan didaftarkan untuk mengikuti ujian kelompok belajar (kejar) paket C. Pihak sekolah yang akan mengurus kelengkapannya. “Para siswa tinggal mengikuti ujian yang sudah ditentukan Dispendipora nanti,” tuturnya.

Suasana serupa tampak di SMP Katolik Santo Yusuf Banyuwangi. Dari 100 siswa, yang dinyatakan tidak lulus 16 anak.

Paulus Slamet, Kepala SMP Katolik Santo Yusuf mengatakan, kegagalan 16 siswa itu menjadi cambuk bagi sekolahnya. Dengan begitu, bisa melakukan yang terbaik tahun depan. Diakuinya, berbagai cara sudah dilakukan oleh sekolah dalam mempersiapkan siswa menjelang unas, mulai menambah jam pelajaran hingga menggelar try out (ujicoba, Red). Para guru juga sudah optimal mengerjakan tugasnya. “Mungkin SDM-nya yang masih belum maksimal,” cetusnya di ruang kerjanya kemarin pagi.

Menurut Paulus, selama ini sekolah swasta dituntut harus mandiri dengan mencari biaya sendiri. Semua sarana-prasarana kegiatan belajar-mengajar harus serba lengkap. ”Jadi, ya seperti sekarang ini,” tukasnya.

Ditambahkan, tahun depan pihaknya akan melakukan yang terbaik. “Diharapkan, kegagalan tahun 2009 tidak akan terulang lagi,” ujarnya.

Ditemui secara terpisah, Kepala Dispendikpora Banyuwangi, Sulihtiyono, yang didampingi Kabid Pendidikan Menengah, Catur Pamarto, menegaskan kelulusan SMP kali ini mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya. Bahkan, Banyuwangi menduduki peringkat 18 besar di Provinsi Jawa Timur.

Bagaimana dengan SMP swasta? Diakuinya, data SMP swasta masih belum direkap. ”Yang pasti, sama-sama mengalami kenaikan,” tegasnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: